Senin, 21 Maret 2011

SEJARAH KELURAHAN TIDAR

SEJARAH KELURAHAN TIDAR
----------------------------------------------------------



1. Bahwa nama Tidar tidak dapat dipisahkan dengan Prasasti Mantiasih yang konon pada saat itu masyarakat di Mantiasih pada jaman Ratu Dyah Balitung mengadakan pemujaan sesaji/persembahan di suatu dataran tinggi ( tanah yang tinggi ) dengan berbagai macam-macam makanan dan selanjutnya disitu dijadikan tempat untuk menyajikan bermacam-macam makanan, untuk membawa keatas makanan atau dedaharan menggunakan tempat dari peti kayu, sehingga disebut PETI DAHAR sehingga Peti Dahar tersebut seiring dengan berjalannya waktu yang sangat lama kemudian disebut T I D A R.

2. Setelah perlawanan Pangeran Diponegoro dapat dikalahkan oleh Belanda ( Perang Diponegoro Tahun 1825-1830 ) banyaknya pengikut setia yang tetap tinggal disekitar Magelang, salah satunya adalah WUNDAR WANGI. Beliau ikut berperang bersama Pangeran Diponegoro disekitar Wilayah Magelang.
Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan oleh Belanda, Kyai Wundar Wangi tetap menetap di Magelang dan Kampung tempat Kyai Wundar Wangi beserta pengikutnya dinamai TIDAR dan sampai saat ini menjadi identitas Kelurahan Tidar.

Catatan :
1. Sumber cerita pertama dari Bapak SURAHMAD ( Tokoh Masyarakat Kampung Tidar Warung Kelurahan Tidar Selatan.
2. Sumber cerita kedua dari Bapak H. SURAHMAT ( Tokoh Masyarakat Kampung Dudan Kelurahan Tidar Utara ).


3. TIDAR SAWE
Dahulu merupakan Sawah Segiling ( tempat gilingan tebu ) sebelum adanya irigasi dan sawah. Sawah yang ada saat itu sudah disaweni ( atau diberi tenger/tanda jangan ditanami padi atau ketela tapi tebu ). Bukti yang ditemukan adalah :
Pada saat pembangunan Kantor Kecamatan Magelang Selatan telah ditemukan Batu Tungku untuk menumbuk Titis Tebu. Batu tengku tersebut telah disimpan oleh pemborong pembangunan Kantor Kecamatan Magelang Selatan ( Bp. Winarno ).

4. TIDAR CAMPUR
Merupakan daerah yang penduduknya pada saat itu terdiri dari berbagai daerah yang bermukim dan bekerja sebagai buruh Tebu di Sawe. Sehingga masyarakat pada saat itu memberi tetenger Tidar Campur ( identitas dengan terjadinya intensitas masyarakat di lingkungan tersebut yang datang dari berbagai wilayah ).

5 TIDAR WARUNG
Sebelum adanya irigasi di daerah KOPTI ( sekarang ) sampai dengan Percetakan PODOREJO ( Jl. Beringin VI ) di sepanjang jalan tersebut berdiri warung-warung untuk kegiatan transaksi jual beli pedagang seberang sungai elo dengan masyarakat Kota Magelang.
Cikal bakal
Adanya Nyai Semendi ( makamnya terletak di makam umum Tidar Warung sampai saat ini ).

6. TRUNAN
Bahwa di wilayah tersebut pada jaman dahulu berdiam seorang sesepuh yang masih merupakan kerabat dari kerajaan Mataram dimana masyarakat setempat pada jaman itu menyebut MBAH KYAI TRUNO beserta isterinya NYAI TRUNO, karena kebesaran namanya, sehingga masyarakat saat itu masih mengenangnya dengan memberikan nama wilayah itu disebut TRUNAN.
Kegiatan sosial yang masih berjalan sampai saat ini setiap tahun masyarakat Trunan melaksanakan kegiatan sadran (nyadran) di Gunung Tidar.

7. TANON (TIDAR SARI)
Sebelum tahun 1945 tempat tersebut merupakan tempat meletakkan senjata Kanon oleh tentara Belanda untuk menggempur wilayah timur seberang sungai Elo saat itu. Kemudian pada jaman orde baru merupakan tempat pindahan warga dari bekas terminal lama Kota Magelang yang disebut Barakan (Rejomulyo) dipindahkan ke Tanon, karena tempat tersebut untuk terminal bus.

Narasumber :
Bapak SURAHMAD ( Tokoh Masyarakat Tidar Warung Kelurahan Tidar Selatan ).

































2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar